Background Image

metodologi

Metodologi Penyusunan Data Base

Serangan Teroris dan Penanganan Terorisme dan Ekstremisme

1.Pengantar

Insiden-insiden serangan teroris yang terjadi akhir-akhir ini telah dengan jelas menunjukkan bahwa ancaman terorisme dan ekstremisme dengan kekerasan tetap terjadi di Indonesia. Pada masa lalu, model serangan teroris terjadi dalam bentuk serangn berskala besar dan menargetkan korban per insiden yang juga besar. Dalam beberapa tahun terakhir lanskap ancaman radikalisme dan terorisme di Indonesia mengalami perubahan. Hal ini ditunjukkan oleh kemunculan pola-pola baru dalam penyebaran faham radikal dan serangan teroris. Penyebaran faham radikal kini menyasar hampir ke berbagai kelompok masyarakat. Kelompok kelas menengah dan terdidik yang sebelumnya diyakini kebal terhadap faham-faham radikal kini justru seringkali terlibat dalam menyerukan hasutan-hasutan yang mengarah kepada ajakan melakukan teror. Meluasnya penggunaan teknologi komunikasi dan informasi seolah menjadi katalis penyebaran faham-faham radikal di Indonesia. Bahkan, faham radikalisme juga mulai menyasar kelompok usia dini.

Di sisi lain, aksi-aksi terorisme juga mulai menunjukkan perubahan karakter dan pola serangan. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan teroris seringkali dilakukan oleh mereka yang teradikalisasi secara mandiri (self-radicalised lone wolves) dan merupakan bagian dari sel-sel teroris yang lebih tidak terorganisir dan hierarkis dibanding pada masa sebelumnya.

Persoalan tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pendekatan pencegahan dan pemberantasan terorisme dan radikalisme yang selama ini berlaku. Pertama, masih kurangnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya data dan dalam perumusan kebijakan dan strategi pemberantasan terorisme. Penting untuk dilakukan penguatan kapasitas pengambil kebijakan dan masyarakat dalam menggunakan data untuk memahami lanskap baru terorisme dan radikalisme. Kedua, bahwa upaya pemberantasan terorisme dan radikalisme masih terlalu didominasi oleh Negara. Negara perlu merangkul dan memberdayakan berbagai unsur masyarakat sipil dalam upaya pemberantasan terorisme. Ketiga, kerangka hukum yang ada saat ini dirasa tidak memadai. Dibutuhkan adanya perbaikan terhadap kerangka hukum dalam rangka memperkuat ketahanan negara dan masyarakat dalam menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme.

The Habibie Center berkeyakinanbahwa upaya pencegahan dan penanganan terorisme harus bersifat inklusif dengan keterlibatan berbagai unsur pemerintah dan masyarakat. Di samping itu, THC menilai bahwa kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanganan terorisme harus didasarkan pada data dan informasi yang akurat serta kajian akademis yang memadai. Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, pada awal tahun 2017, The Habibie Center memulai program Countering Terrorism and Violent Extremism in Indonesia: Towards Inclusive and Data-based Framework. Tujuan akhir dari program ini adalah untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Indonesia terhadap ancaman radikalisme, kekerasan yang dipicu oleh ekstrimisme dan terorisme. Salah satu strategi yang digunakan THC adalah menyediakan database tentang terorisme di Indonesia. THC menganggap penggunaan database tersebut dapat mendukung proses pengambilan kebijakan dan perumusan strategi penanganan ekstrimisme dan terorisme di Indonesia

2.Membangun data base serangan dan penanganan terorisme dan ekstermisme

Komponen utama dalam program ini adalah membangun data base yang bisa diakses oleh publik secara luas. Keputusan ini didasari oleh pertimbangan bahwa belum tersedia data komprehensif dan diupdate secara berkala terkait dengan serangan dan kontra terorisme dan ekstremisme di Indonesia yang bisa diakses oleh publik secara luas. Sejauh ini, Polri telah mengeluarkan data tentang terduga teroris dan organisasi teroris yang dipublikasikan setiap bulan. Akan tetapi, data tersebut terbatas pada daftar entitas atau individu terduga teroris, bukan data tentang serangan teroris atau data tentang penanganan terorisme dan eksremisme.

Sejauh ini, satu-satunya data komprehensif yang tersedia di Indonesia dan bisa diakses oleh publik adalah data base Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) milik Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Sayanganya data tersebut tidak diperbarui sejak awal 2015. Disamping itu, serangan teroris hanya dicatat sebagai salah satu bentuk kekerasan, yaitu: serangan teror, tetapi tidak secara spesifik menempatkanya sebagai salah satu tipe kekerasan dengan isu-isu tertentu yang melatarbelakanginya.

Program ini berusaha untuk mengisi kekosongan data yang disebutkan di atas. Data base yang dibangun merupakan kombinasi dari perekaman peristiwa serangan teroris dan penangananterorisme dan ekstremisme. Penanganan yang dimaksud di sini melingkupi pencegahan, deradikalisasi, dan reintegrasi.

Pencatatan penanganan terorisme dan ekstremisme secara sistematis sangat penting dilakukan. Pencatatan tersebut bisa dipergunakan untuk, misalnya mengetahui apa saja yang telah/sedang dilakukan, mengetahui pembagian peran antar pemangku kepentingan, memperkuat koordinasi dan sinergi antar pemangku kepentingan, memperkuat startegi/program kontra terorisme oleh pemerintah dan masyarakat sipil, dan melakukan evaluasi apakah intervensi yang dilakukan sesuai dengan karakter permasalahan terkait terorisme dan ekstremisme di wilayah-wialayah yang berbeda. Pada akhirnya, analisa terhadap data tersebut bisa dipakai untuk melihat apakah suatu wilayah rentan terhadap ektremisme atau terorisme.

- Apa yang ada di dalam data base?

  • Data tentang peristiwa serangan teroris dan penanganan isu terorisme dan ekstremisme serta berbagai feature yang memungkinkan dilakukannya analisis secara on-line.
  • modul tentang penggunaan data base terorisme dan ekstremisme serta usaha-usaha untuk menanganinya.
  • Publikasi analisis terhadap data yang diperkuat dengan penelitian lapangan.
  • Informasi mengenai jaringan masyarakat sipil yang bergerak dalam pencegahan dan penanganan terorisme dan ekstremisme.

- Apa yang bisa dilakukan dengan data base?

Pembangunan data base serangan dan penanganan terorisme dan ekstremisme ini dapat memberikan gambaran tentang tingkat peristiwa serangan teroris, distribusi serangan teroris, bentuk-bentuk yang serangan, dampak yang ditimbulkannya, dan isu-isu yang melatarbelakangi serangan tersebut. Data base ini juga dapat memberikan informasi tentang penanganan-penanganan terorisme dan ekstermisme, baik pencegahan maupun penanganan pasca serangan. Secara spesifik, data base ini bisa dipergunakan untuk:

  • Mendukung pemangku kepentingan yang terkait dengan upaya penanggulangan ektremisme dan terorisme yang berbasis data dan lebih inklusif.
  • Memberikan sumber informasi yang memadai untukmenetapkan prioritas, merancang strategi/program terkait penanggulangan terorisme.
  • Menyediakan informasi yang komprehensif untuk melakukan pemantauan dan mengevaluasi efektiviatas strategi/program yang dijalankan dalam penanggulangan terorisme
  • Membuka kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat sipil untuk berpartisipasi dan memberikan kontribusi pada usaha bersama dalam menanggulangi ektremisme dan terorisme

3.Ruang Lingkup data base

Definisi operasional

Terorisme telah menjadi perhatian dunia sejak awal abad 20. Dalam Convention for The Prevention and Suppression of Terrorism tahun 1937, terorisme diartikan sebagai crimes against state (kejahatan terhadap Negara). Pada perkembangan selanjutnya terorisme dipandang sebagai serangan terhadap kemanusiaan. Definisi ini membuat serangan teroris dimasukkan dalam kategori pelanggaran HAM berat yang dilakukan sebagai bagian yang meluas/sistematik. Serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, lebih diarahkan pada jiwa-jiwa orang tidak bersalah (Public by innocent). Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Sedangkan menurut Prof. Brian Jenkins, Ph.D., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif, hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu. Hingga saat ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Terorisme.

Di Indonesia, usaha kontra-terorisme dilakukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan Undang-undang No 1 tahun 2002 yang kemudian diperbarui dengan Undang-undang No 15 tahun 2003. Undang-undang tersebut menjadi titik tolak institusionalisasi usah-usaha terkait kontra-terorisme. Beberapa lembaga khusus dibentuk untuk menjalankan misi tersebut, misalnya membentuk detasemen khusus anti terror di dalam tubuh kepolisian RI, dan kemudian disusul dengan membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 yang kemudian diperbarui dengan Peratuan Presiden Nomor 12 Tahun 2012.

Walaupun institusionalisasi kontra-terorisme di Indoneisa telah berjalan sejak 2002, definisi standar tentang terorisme tidak disebutkan dalam undang-undang tersebut. Oleh karena itu program ini menggunakan definisi dari sumber lain, khususnya untuk mendefinisikan terorisme.

Terorisme

Dari berbagai macam definisi yang telah dikeluarkan oleh berbagai macam lembaga, program ini menggunakan define terorisme yang dikeluarkan oleh UN office of the high Commissioners of Human Right. Oleh lembaga tersebut, terorisme didefinisikan sebagai tindakan atau tindakan percobaan dimana:

  1. Tindakan tersebut (a) Merupakan tindakan yang disengaja untuk melakukan penyanderaan; atau (b) Dimaksudkan untuk menyebabkan kematian atau cedera serius terhadap satu atau lebih anggota populasi secara umum atau segmennya; atau (c) Menggunakan kekerasan fisik yang mematikan atau serius terhadap satu atau lebih anggota populasi umum atau segmennya; dan
  2. Tindakan yang dilakukan atau diupayakan dengan maksud untuk: (a) Membangkitkan keadaan teror di masyarakat umum atau segmennya; atau (b) Meminta pemerintah atau organisasi internasional untuk melakukan atau tidak melakukan melakukan sesuatu; dan
  3. Tindakan tersebut sesuai dengan: (a) Definisi pelanggaran serius dalam hukum nasional, yang berlaku untuk tujuan mematuhi konvensi dan protokol internasional yang berkaitan dengan terorisme atau dengan resolusi Dewan Keamanan yang berkaitan dengan terorisme; atau (b) Semua elemen kejahatan serius yang ditetapkan oleh hukum nasional.

Disamping itu, U.N. Special Rapporteur on the Promotion and Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms While Countering Terrorism, mendefiniskan penghasutan untuk melakukan terorisme, adalah “Perbuatan yang dengan sengaja dan melawan hukum dengan mendistribusikan pesan kepada masyarakat dengan maksud untuk menghasut terjadinya tindakan terorisme yang dilakukan secara terang – terangan ataupun pesan tersebut mengandung maksud untuk menganjurkan perbuatan terorisme yang menyebabkan bahaya bagi masyarakat apabila perbuatan tersebut telah dilakukan.

Serangan terorisme

Di Indonesia, serangan terorisme digolongkan sebagai tindak pidana, yang penanganannya diatur secara khusus melalui undang-undang pemberantarasan tindak pidana terorisme (UU Nomor 15 tahun 2003). Pada pasal 6 undang-undang tersebut, tindak pidana terorisme didefinisikan sebagai Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang:

  1. menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas;
  2. menimbulkan korban yang bersifat masal, merampas kemerdekaan, atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain; dan/atau
  3. mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap Obyek Vital yang Strategis, lingkungan hidup, Fasilitas Publik, dan/atau fasilitas internasional

Penanganan terorisme

Penanganan terorisme yang disebut di dalam program ini merujuk pada penanggulanagan terorisme yang disebutkan dalam peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010. Dalam Perpres tersebut, penanggulangan terorisme disebutkan melingkupi pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan penyiapan kesiapsiagaan nasional.

4.Struktur data base

Overview

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, data base ini akan mencatat peristiwa serangan terorisme dan penanganan terorisme dan ekstremisme. Oleh karena itu, setiap peristiwa yang ditangkap dalam data base ini langsung dikelompokkan sebagai peristiwa serangan atau peristiwa penanganan terorisme.

Secara umum, data base ini terdiri dari empat bagian besar, yaitu:

  1. Bagian 1. Informasi umum: jenis, waktu, lokasi, dan id peristiwa. Bagian ini meliputi serangan teroris dan penanganan terorisme dan ekstremisme.
  2. Bagian 2. Peristiwa serangan teroris
    • Pelaku, dampak, dan intervensi saat kejadian
    • Target, bentuk, tipe serangan, dan senjata yang dipergunakan
  3. Bagian 3. Penanganan terorisme
    • Aktor dan target penanganan
    • Bentuk dan hasil penanganan
  4. Bagian 4. Ringkasan dan sumber informasi. Bagian ini meliputi serangan teroris dan penanganan terorisme dan ekstremisme.

5.Menentukan sumber data dan metode pengolahan data

Sumber data

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, basis pencatatan dalam data base ini adalah peristiwa, baik peristiwa teroris maupun penanganannya. Data base ini juga dibangun dengan beberapa variabel terpilah, mulai dari waktu peristiwa, lokasi, pelaku, hingga sampai ke dampak yang timbul dari pertiwa tersebut. Selain itu, pemutakhiran data base ini diharapkan real time atau setidaknya tidak memiliki jeda waktu (gap) yang terlalu besar dengan waktu peristiwa terjadi. Dua hal tersebut secara langsung berpengaruh pada sumber informasi yang akan digunakan untuk menyusun data base.

Dengan beberapa karakteristik di atas, sumber informasi yang akan dipergunakan untuk membangun data base ini juga harus memilik beberapa kriteria sebagai berikut:

  1. Sumber informasi harus mememuat informasi tentang peristiwa serangan teroris atau penanganan isu terorisme dan ekstremisme
  2. Informasi yang disampaikan memungkinkan untuk melakukan pencatatan (koding/data entry) secara terpilah
  3. Informasi tersebut memiliki akurasi tentang fakta peristiwa
  4. Memiliki jadwal publikasi yang teratur
  5. Dapat diakses publik secara luas

Beberapa sumber data bisa dipergunakan berdasarkan kriteria yang disebutkan di atas, misalnya: laporan-laporan yang dirilis oleh pemerintah atau aparat keamanan, laporan-laporan yang dirilis oleh LSM, hasil survey, media massa cetak, dan media online. Masing-masing sumber datatersebut memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, misalnya akurasi pelaporan, wilayah cakupan pelaporan, kemudahan akses, dan durasi waktu atau kuntinuitas pemutakhiran laporan.Kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan kombinasi berbagai sumber data.

Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Jenis Sumber Data


Sebagaimana telah disebutkan di atas, salah satu sumber data potensial yang bisa dipergunakan untuk membangun data base tentang terorisme dan penanganannya adalah media massa karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sumber data yang lain.

Penggunaan media massa (cetak) sebagi sumber data telah dimulai oleh beberapa program sebelumnya. Di Indonesia, salah satu program tersebut adalah Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) yang dilaksanakan oleh Kemenko PMK sejak tahun 2012. Program SNPK menggunakan artikel surat kabar lokal harian untuk mencatat insiden kekerasan. Di dalam data base tersebut, artikel media dimanfaatkan untuk mencatat 30 variabel yang terkait dengan insiden kekerasan, diantarnya adalah: waktu kejadian, tempat kejadian, pelaku dan korban, tipe dan bentuk kekerasan, dampak, senjata yang dipergunakan, serta intervensi yang dilakukan untuk menghentikan insiden kekerasan tersebut.

Seperti yang disebutkan dalam program SNPK, penggunaan artikel media local sebagai sumber informasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa kelebihan tersebut diantarnya adalah:

  1. Media lokal melaporkan insiden yang terjadi setiap hari melalui artikel yang dipublikasikan kepada masyarakat luas. Sistem pelaporan ini membuat media bisa memberikan gambaran tentang tingkat intensitas insiden lebih akurat dari pada metode survey.
  2. Media local mecatat dan melaporkan insiden-insiden yang terjadi karena berbagai macam isu, coverage areayang luas, dan memiliki ruang pelaporan yang lebih banyak dibandingkan dengan media nasional.
  3. Deskripsi insiden dapat diketahui karena media lokal juga melaporkan kronologi insiden dan dampak yang ditimbulkan oleh insiden tersebut.
  4. Merupakan dokumen yang dapat diakses oleh publik.

Disamping kelebihan tersebut, pengunaan surat kabar cetak juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah:

  1. Melaporkan insiden, bukan akar masalah. Hal ini mengakibatkan analisa yang bisa dilakukan terbatas pada tren, persebaran, karakteristik, dan lain-lain. Analisa yang lebih dalam tentang akar masalah yang melatarbelakangi sebuah insiden harus dilakukan dengan menggunakan metode yang lain.
  2. Beberapa kendala dalam mengumpulkan arsip surat kabar cetak cetak sering terjadi karena lemahnya pengarsipan, bahkan di kantor redaksi media yang bersangkutan. Selain itu kualitas cetak yang buruk juga membuat arsip yang tersedia kadang kala tidak bisa dimanfaatkan karena buram dan tidak bisa dibaca
  3. Ruang lingkup pelaporan (coverage area) beberapa media terbatas pada daerah urban sehingga terjadi bias pelaporan. Disamping itu, bias pelaporan juga bisa terjadi karena kebijakan redaksi dan kemampuan jurnalis dalam membuat pelaporan yang obyektif dan berimbang. Bias semacam ini bisa diatasi dengan menggunakan beberapa media sebagai sumber untuk suatu wilayah

Perkembangan teknologi informasi saat ini sangat berpengaruh pada perubahan pola pencarian dan penyajian informasi bagi masyarakat. Perubahan tersebut juga mempengaruhi media-media mainstream, yang pada awalnya fokus pada penyediaan informasi melalui media cetak menjadi media-media on-line. Perubahan drastis tersebut tidak bisa dielakkan karena berbagai pertimbangan, misalnya kecepatan menyampaikan informasi dan bisa mengurangi biaya produksi, khususnya pada komponen pencetakan yang harus ditanggung oleh pihak perusahaan media. Media on-line memiliki potensi yang besar untuk dipergunakan sebagai sumber data karena memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah:

  1. Media on-line memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber data karena sifat pemberitaannya yang cepat sehingga mengurangi jeda waktu (gap) antara peristiwa dan pelaporan. Kecepatan pelaporan tersebut memungkinkan pembangunan data basereal time, yang pada akhirnya memungkinkan respon cepat dari pemangku kepentingan.
  2. Penggunaan media on-line juga lebih murah dari segi biaya karena memerlukan biaya pengiriman, memotong proses ekstraksi dari file cetak menjadi file elektronik, menyederhanakan proses koding dan entry data, dan membutuhkan sumber daya yang lebih sedikit dibandingkan dengan pengolahan data dari media cetak.
  3. Keberlanjutan pendaatan di masa depan lebih terjamin karena biaya yang harus dikeluarkan untuk pemeliharaan data base dan pemutakhiran data relatif lebih murah.
  4. Isu bias urban (coverage area) yang menjadi salah satu persoalan kredibilitas media on-line tidak berpengaruh besar dalam pendataan ini karena peristiwa serangan dan penanganan terorisme biasanya dilaporkan oleh berbagai macam media, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Dengan beberapa pertimbangan di atas, program ini memutuskan untuk menggunakan informasi dari media on-line sebagai sumber data utama penyusunan data base serangan dan penanganan terorisme ini.

Menentukan cara mengolah informasi

Beberapa metode yang dicoba dalam tahap awal program ini adalah pengodingan dan entri data secara manual dan pengodingan dengan menggunakan teknologi big data. Kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk melakukan pendataan secara nasional di Indonesia, pengodingan secara manual membutuhkan tim yang besar sehingga secara langsung juga berdampak pada biaya tinggi. Selain itu, pengodingan secara manual juga membutuhkan konsistensi tinggi, baik ketika koder mengoding beberapa peristiwa, maupun ketika beberapa koder melakukan mengoding sebuah peristiwa. Konsistensi merupakan tantangan tersendiri dalam sebuah tim yang besar.

Kekurangan seperti disebutkan di atas bisa diatasi dengan metode pencatatan dengan menggunakan mesin big data. Logaritma yang dibangun dalam dalam mesin tersebut mampu menjaga konsistensi dalam pencatatan. Walaupun begitu, mengingat perkembangan pemberitaan melalui media on-line, logaritma yang dibangun harus selalu diupdate untuk memastikan bahwa berbagai informasi tidak luput dari pemantauan dan/atau tidak terjadi duplikasi (double coding) terhadap suatu insiden. Selain itu, sistem ini masih memerlukan monitoring non mesin walaupun sangat terbatas. Setidaknya harus ada tim kecil yang bertugas sebagai pemantau data base yang bertugas unutk memberikan masukan untuk pemutakhiran mesin big data.

Pemilihan sumber data seperti yang disebutkan di atas juga secara langsung berpengaruh pada alat yang akan dipergunakan untuk mengolahnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa pertimbangan metode pengolahan sumber menjadi data base yang komprehensif didasarkan pada pertimbangan utama bahwa: (1) memungkinkan perekaman peristiwa secara akurat dan terpilah; (2) mengatasi gap yang terlalu lama antara waktu kejadian dengan pelaporan; dan (3) membutuhkan biaya yang relatif murah sehingga keberlanjutan pendataan terjamin. Dengan pertimbangan tersebut, program ini menggunakan mesin big data sebagai metode pendataan utama yang dikombinasikan dengan tenaga manusia.

  • Pengumpulan Data

    Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah menggunakan web scrapping (Gambar 1). Web Scrapping merupakan metode pengambilan data dari website dengan mengambil isi/konten dari suatu website. Setelah proses ini dilakukan, kemudian dilakukan ekstraksi informasi yang dibutuhkan dalam kaitannya dengan pembuatan Database Terorisme dan Kontra-terorisme.

    Gambar 1. Proses Web Scrapping

    Informasi diambil berdasarkan kepada template yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu:

    1. Waktu publikasi berita
    2. Judul berita
    3. Sinopsis berita
    4. Nama atau inisial editor
    5. Isi berita

    Setelah semua konten berita dapat di-ekstrak, baru datanya akan dimasukkan ke dalam database. Proses ini dilakukan secara berkala tergantung kepada frekuensi website/portal berita melakukan update berita.

  • Ekstraksi Informasi

    Metode ekstraksi informasi yang digunakan adalah melakukan analisa terhadap data hasil crawling yang telah disimpan di dalam database. Informasi yang dianalisis adalah judul berita, waktu publikasi berita, dan isi berita. Pertama-tama digunakan metode Named Entity Recognition (NER) (Gambar 2) untuk melakukan pengenalan entitas terhadap masing-masing kata yang ada pada judul dan content berita. Pengenalan ini nantinya akan menjadi pattern yang akan digunakan untuk melakukan pembuatan kesimpulan terhadap suatu hal. Pada dasarnya NER akan mengeluarkan output berupa pengenalan terhadap:

    1. Person (pelaku serangan atau aktor penanganan)
    2. Tempat/lokasi kejadian peristiwa serangan teror atau penanganan terorisme
    3. Organisasi yang menjadi afiliasi pelaku serangan teror atau aktor dalam penanganan terorisme
    4. Kuantitas (informasi nominal dalam artikel, misalnya: jumlah korban, atau kata-kata yang merujuk pada nominal “beberapa, belasan, puluhan, dst”)
    5. Waktu (tanggal, bulan, dan tahun terjadinya serangan atau penanganan)
    6. Dan hal-hal lain yang diperlukan untuk memperkuat analisa dari sistem

    Informasi di atas akan diekstrak secara global, tanpa melihat peristiwa yang berkaitan dengan masing-masing entitas. Entitas tersebut akan menjadi bernilai ketika sudah dibubuhi pola pembentukan kalimat dan post tagging dari masing-masing kata.

    NER pada awalnya mengekstrak kata Agus sebagai Person dan Jakarta sebagai Tempat. Tetapi apabila kita masukkan pattern bahwa ketika Person + Kata Kerja + Kata Sambung + Tempat memiliki nilai tertentu, maka Ekstraksi lanjutan dapat didapatkan dari Kalimat di atas.

    Selain itu susunan kata juga akan dijadikan formulasi, yang secara semantik sudah terbentuk ketika proses NER berjalan. Referensi dari pembentukan NER ini berdasarkan corpus yang sudah dibentuk sebelumnya. Dimana corpus ini akan selalu di-update dari waktu ke waktu seiring dengan varian susunan kalimat yang dapat menyebabkan perubahan output dari proses ini sendiri.

    Gambar 2. Proses NER

    Dari susunan kata dan Entitas yang berhasil didapatkan oleh NER, selanjutnya dapat dirumuskan pattern-pattern untuk melakukan Event Extraction. Event Extraction merupakan suatu metode ekstraksi terhadap informasi tertentu(dalam hal ini serangan dan penanganan) berdasarkan beberapa variabel yang sudah ditentukan sebelumnya sehingga dapat mengeluarkan output berupa event/kejadian yang terjadi dari suatu artikel.

    Selain Event Extraction, juga diberlakukan Information Extraction untuk melengkapi informasi penguat yang dibutuhkan ketika terjadi suatu kejadian.

Prinsip-prinsip menentukan waktu dan kuantitas

Menentukan tanggal peristiwa:

Menuliskan tanggal peristiwa penting untuk dilakukan, pertama sebagai cara untuk menentukan jumlah peristiwa di dalam sebuah artikel dan yang kedua adalah untuk mengurutkan secara kronologis berdasarkan tanggal peristiwa setiap bulan. Kita akan dengan mudah menemukan tanggal peristiwa pada artikel terpilih, namun terkadang kita akan menemukan kesulitan untuk menentukan kapan peristiwa terjadi. Berikut adalah prinsip berkaitan dengan penentuan tanggal suatu peristiwa terjadi baik dalam tahapan Pengumpulan Data dan proses Coding Data nantinya.

  1. Tanggal Peristiwa pada template pengumpulan data adalah tanggal terjadinya peristiwa, BUKAN tanggal surat kabar. Misalnya, jika sebuah surat kabar yang terbit pada 29/03/1998 menyebut bahwa sebuah peristiwa terjadi ‘tadi malam’, maka tanggal peristiwa itu berarti 28/03/1998.
  2. Apabila tanggal peristiwa memang tidak disebut di artikel manapun dan periode waktu juga sama sekali tidak disebut, maka beri tanggal peristiwa satu hari sebelum tanggal sumber yang paling awal.
  3. Jika beberapa sumber menyebutkan tanggal peristiwa tertentu dan 1 sumber menyebutkan tanggal peristiwa yang berbeda maka gunakan tanggal yang disebutkan oleh paling banyak sumber.
  4. Jika satu sumber menyebutkan tanggal peristiwa tertentu dan satu sumber lain menyebutkan tanggal peristiwa yang berbeda maka pakai tanggal yang lebih awal.
  5. Jika surat kabar menyebutkan hanya bulan (tanpa tanggal tertentu), maka pakai tanggal 15 pada bulan yang disebutkan. Contoh: Kalau surat kabar menyebutkan bahwa peristiwa terjadi pada bulan Juni yang lalu, maka pakai tanggal 15 Juni sebagai tanggal peristiwa.
  6. Jika artikel menyebutkan tanggal yang tidak pasti, misalnya: beberapa hari yang lalu, atau 2 minggu lalu, dll, maka anda bisa menggunakan prinsip berikut ini:
    • Beberapa waktu lalu = 1 hari sebelum artikel
    • Beberapa hari yang lalu = 2 hari yang lalu
    • Beberapa minggu yang lalu = 2 minggu yang lalu (tanggal atikel dikurangi 14)
    • Sebulan yang lalu = 1 bulan lalu (tanggal artikel dikurangi 1 bulan), misal: tanggal artikel 7 Juni berarti tanggal peristiwa 7 Mei
    • Beberapa bulan yang lalu = 2 bulan yang lalu, misalnya tanggal artikel 7 Juni berarti tanggal peristiwa 15 April (di sini kita tidak menggunkan pengurangan 2 bulan, sehingga kita mengambil tanggal pertengahan bulan)
    • Artikel yang ditulis berdasarkan laporan penangkapan oleh aparat keamanan atau hasil sidang (jika tidak ditemukan artikel mengenai peristiwa) dan tidak ditemui informasi tentang tanggal peristiwa maka gunakan tanggal 1 hari sebelum penangkapan atau sebelum sidang

Prinsip menentukan jumlah peristiwa:

Basis pencatatan data base ini adalah peristiwa sehingga sangat penting untuk menentukan bagaimana mencatat suatu peristiwa dan criteria apa saja yang harus diperhatikan untuk menetapkan bahwa suatu insiden/even menjadi satu peristiwa atau lebih dari 1 peristiwa. Sebuah artikel surat kabar sangat mungkin melaporkan satu, akan tetapi ada kemungkinan bahwa artikel tersebut berisi lebih dari satu peristiwa. Oleh karena itu beberapa prinsip berikut dipergunakan untuk menentukan satu peristiwa. Namun kita akan menentukan jumlah insiden berdasarkan 4 (empat) hal, yaitu aktor/pelaku, isu, tanggal kejadian, dan lokasi peristiwa. Selain tiga hal tersebut, jenis kekerasan juga harus diperhatikan dalam pnentuan jumlah insiden. Dua atau lebih dari dua insiden/even terpisah DAPAT dihitung sebagai satu peristiwa, selama perisitwa itu memenuhi seluruh dari empat syarat berikut ini:

  1. Tanggal yang sama:Dua atau lebih insiden/even itu harus terjadi dalam kurun waktu 24 jam.
  2. Isu yang sama:Isu yang diperselisihkan oleh kedua belah pihak harus sama.
  3. Tanggal yang sama:Setidaknya salah satu pihak dari aktor dalam kedua peristiwa harus merupakan aktor yang sama, di mana ‘aktor’ mengacu pada individu-individu tertentu, bukan kelompok, organisasi atau afiliasi.
  4. Tanggal yang sama:Lingkup lokasi disebut sama jika terjadi dalam 1 provinsi

Menentukan Jumlah Pelaku/Aktor dan Dampak

Data base terdiri dari field berisi kode dan jumlah.Perlu diperhatikan KODE dan JUMLAH yang digunakan sama-sama menggunakan ANGKA (0,1,2,3...dst.).

  1. Kode; merupakan kode yang dipakai untuk mengisi field afiliasi pelaku/aktor, pengintervensi, hasil intervensi, senjata, tipe bangunan, isu dan bentuk kekerasan.
    • Kode 0 berarti tidak ada; kode ini digunakan untuk menyatakan ‘Tidak Ada’. Kode ini hanya dipakai jika tidak ada pengintervensi, tidak ada senjata, tidak ada tipe bangunan. Kode ‘0’ tidak bisa digunakan pada afiliasi pelaku/aktor, isu dan bentuk peristiwa, karena minimal suatu peristiwa memiliki satu pelaku/aktor dipihak 1 dan 2, memiliki satu isu dan satu bentuk.
    • Kode 1 berarti lainnya; dipakai jika kode yang tersedia di dalam data base dan coding key tidak sesuai dengan informasi yang anda baca di dalam artikel dan anda harus menuliskan penjelasan setiap kali menggunakan kode 1.
    • Kode 99 berarti tidak jelas; kode ini hanya dipakai jika informasi di dalam artikel tidak jelas. Kode ini hanya digunakan pada tipe aktor, pengintervensi, hasil intervensi, senjata,tipe bangunan, isu dan bentuk peristiwa.
  2. Jumlah; field yang berisi jumlah terdapat pada jumlah pelaku/aktor, jumlah korban kekerasan (tewas,cidera,pencabulan,diculik), jumlah korban perempuan (tewas,cidera,pencabulan,diculik),jumlah bangunan yang terkena dampak.
    • Pada bagian jumlah pelaku/actor; angka 0 tidak berlaku kareja setiap peritiwa pasti melibatkan paling tidak 1 pelau/actor. Jika artikel menyebutkan bahwa jumlah pelaku/actor tidak jelas maka prinsip angka minimum diergunakan, yaitu: 1.
    • a. Pada bagian dampak jumlah ‘0’ (nol) menandakan jumlah korban/kerusakan “TIDAK ADA”
    • “TIDAK JELAS” pada bagian korban memiliki dua kemungkinan, yaitu: (1) tidak jelas apakah ada korban atau tidak ada korban; dan (2) jelas ada korban tetapi tidak jelas berapa jumlahnya. Untuk kemungkinan pertama dipergunakan null atau blank untuk menyatakan tidak jelas ada korban atau tidak. Misalnya artikel melaporkan “...tidak diketahui apakah ada korban tewas dalam insiden ledakan suatu bom rakitan.” Untuk kemungkinan yang kedua diisi angka 1 (menggunakan prinsip jumlah minimum) untuk menyatakan bahwa jelas ada korban tetapi tidak jelas berapa jumlahnya. Misalnya artikel melaporkan “...tidak diketahui berapa jumlah korban tewas dalam perstiwa suatu lekadakan bom.”
  3. Dalam penentuan jumlah, jika surat kabar menyebutkan kata-kata beberapa, belasan dll. atau range maka konversikan jumlah itu ke dalam angka. Prinsip jumlah terendah ini kita gunakan ketika hal tersebut tidak berpengaruh pada Bentuk Kekerasan. Berikut adalah ketentuan umum dalam estimasi jumlah:

    Tabel Estimasi Jumlah
    Kata yang disebutkan dalam artikel Apa yang diisi dalam field JUMLAH
    Beberapa 2
    Belasan 11
    Puluhan 20
    Ratusan 100
    Ribuan 1000
    Atau Range disebutkan, misal 15-20 Angka yang TERENDAH

6.Definisi variable di dalam data base

Bagian 1. informasi umum: jenis, waktu, lokasi, dan id peristiwa
No Variabel Sub-Variabel Definisi/Keterangan
1 Jenis Peristiwa

 

  1. Serangan Teroris
  2. Penanganan terorisme dan ekstremisme

Lihat bagian 4. Definisi operasional
2 Waktu Tanggal, Bulan, dan Tahun

Waktu serangan adalah tanggal,bulan, dan tahun serangan terorisme terjadi.

Waktu penanganan adalah tanggal,bulan, dan tahun kegiatan penanganan terorisme dilakukan

Catatan:
Tanggal peristiwa serangan atau tanggal penanganan berbeda tanggal artikel/berita yang dipublikasikan oleh sumber data. Tanggal insiden ini ditentukan berdasarkan informasi yang terdapat di dalam sumber data.

3 Lokasi Provinsi

Lokasi serangan adalah lokasi dimana insiden terjadi.

Lokasi penanganan adalah lokasi dimana kegiatan penanganan terorisme diadakan

4 ID Peristiwa  

Merupakan 5 digit angka untuk membedakan satu insiden dengan insiden lainnya. Setiap peristiwa akan diberi nomor id yang terdiri dari:
Digit 1 dan 2: mengindikasikan provinsi lokasi peristiwa
Digit 3, 4, dan 5: adalah nomor insiden yang dicatat

Contoh:
ID Peristiwa: 31001 berarti peristiwa serangan nomor 1 di DKI Jakarta
ID Peristiwa: 11009 berarti persitiwa penanganan teroris ke 9 di Provinsi Aceh

Bagian 2. Peristiwa serangan teroris
5 Pelaku

Afiliasi pelaku serangan teroris, yakni
0. Tidak ada
1. Lainnya (disebutkan dalam databasejika tidak termasuk ke dalampilihan/afiliasi pelaku yang sudah ada)
2. Jemaah Islamiyah (JI)
3. Jemaah Ansharut Daulah (JAD)
4. Jemaah Anshorut Tauhid
5. Al Haramain Foundation Indonesia/
6. Yayasan Manahil Indonesia
7. Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Pelaku adalah individu dan/atau sekelompok individu yang terlibat serangan pada saat insiden terjadi.
Afiliasi pelaku adalah identitas umum pelaku berdasarkan afiliasi pada insiden serangan teroris tersebut. Organisasi/kelompok afiliasi pelaku adalah organisasi yang telah ditetapkan sebagai organisasi/kelompok teroris baik secara nasional maupun internasional
Istilah pelaku dipakai dengan pertimbangan bahwa serangan teroris merupakan serangan satu arah bukan insiden dua arah.
Pada bagian ini juga dicatat jumlah pelaku serangan teror.

6 Dampak Serangan Kategori Dampak serangan, yakni: Adalah dampak secara fisik yang terjadi karena serangan/tindakan terorisme, bukan dampak psikologis atau dampak jangka panjang
Tewas Adalah dampak kehilangan nyawa (jumlah)
Luka-luka Adalah dampak cedera ringan hingga cacat fisik (Jumlah)
Bangunan rusak Adalah dampak kerusakan terhadap bangunan (Jumlah)
Korban penculikan Adalah dampak atau korban penculikan (Jumlah)
Lainnya Adalah dampak kerusakan selain fisik maupun bangunan, seperti kendaraan, ternak, lahan pertanian, dll (deskripsi)
Berdasarkan gender Adalah breakdown korban berdasarkan jenis kelamin
 

Tipe bangunan

  1. Lainnya
  2. Bangunan pemerintah
  3. Bangunan aparat keamanan
  4. Bangunan milik pemerintah asing
  5. Bangunan keagamaan
  6. Bangunan milik masyarakat

Adalah tipe bangunan yang menjadi target serangan teroris
7 Pengintervensi Kategori Pengintervensi adalah: Adalah orang/pihak yang datang pada saat serangan/tindakan terorisme terjadi di lokasi tersebut dan mencoba menghentikan/menanganinya
0. Tidak ada Tidak ada orang/pihak yang melakukan intervensi
1. Lainnya Adalah ketika terjadi intervensi, dan pengintervensinya disebut dalam sumber data, namun tidak sesuai dengan salah satu kategori yang terdapat dalam daftar
2. Densus 88 Adalah anggota/pasukan Densus 88 yang sedang melewati dan/atau sedang bertugas dan/atau khusus dikerahkan ke lokasi serangan/tindakan terorisme tersebut
3. Polisi Adalah anggota/pasukan Polisi yang sedang melewati dan/atau sedang bertugas dan/atau khusus dikerahkan ke lokasi serangan/tindakan terorisme tersebut
4. TNI Adalah anggota/pasukan TNI yang sedang melewati dan/atau sedang bertugas dan/atau khusus dikerahkan ke lokasi serangan/tindakan terorisme tersebut
5. Warga Adalah warga sekitar (termasuk yang sedang melewati) lokasi serangan/tindakan terorisme
8 Hasil Intervensi Hasil Intevensi, yakni:
  1. Lainnya
  2. Datang ke lokasi kejadian, tapi tidak berhasil
  3. Datang, berhasil menghentikan serangan, tapi tidak ada yang ditangkap
  4. Datang, berhasil menghentikan serangan, dan menangkap pelaku
  5. Hanya mengamankan korban
  6. Datang, tapi serangan semakin besar
Adalah hasil dari upaya menghentikan/menangani serangan/tindakan terorisme yang dilakukan oleh pengintervensi
9 Target Sasaran Kategori Target sasaran adalah: Adalah individu/sekolompok individu serta fasilitas-fasilitas yang terkait yang dijadikan target serangan/tindakan terorisme secara langsung pada saat insiden terjadi
1. Lainnya Adalah serangan/tindakan yang ditujukan diluar kategori-kategori yang telah ditetapkan
2. Pemerintahan Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap kantor dan pegawai pemerintahan (termasuk fasilitas-fasilitas pemerintah).
3. Bisnis Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap kantor atau individu suatu perusahaan
4. Polisi Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap kantor dan aparat kepolisian (termasuk fasilitas-fasilitas kepolisian).
5. Militer Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap kantor dan aparat militer (termasuk fasilitas-fasilitas militer)
6. Tokoh/Fasilitas Agama Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap tempat-tempat dan tokoh-tokoh keagamaan
7. Transportasi Umum Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap system, fasilitas, dan moda transportasi darat, seperti bis dan kereta api
8. Bandara Udara Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap bandara udara dan pesawat terbang. Dalam kategori ini fasilitas militer tidak termasuk
9. Fasilitas Maritim Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap pelabuhan dan kapal (diantaranya, kapal penumpang, kapal pengangkut ikan, kapal tanker, dan kapal pesiar). Dalam kategori ini fasilitas militer tidak termasuk
10. Sekolah Adalah serangan/tindakan terhadap fasilitas sekolah/pendidikan dan juga pengajar serta para peserta didik
11. Media Adalah serangan/tindakan terhadap kantor-kantor media dan juga para jurnalis
12. Kedubes Adalah serangan/tindakan terhadap kantor-kantor kedutaan besar di Indonesia (termasuk kantor konsulat, dll) beserta staf diplomatiknya. Dalam kategori ini termasuk kantor dan fasilitas UN, lembaga donor internasional beserta stafnya
13. Rumah Sakit Adalah serangan/tindakan terhadap fasilitas rumah sakit, pasien, dokter, dan para tenaga medis lainnya
14. Warga Indonesia Adalah serangan/tindakan terhadap individu atau publik pada umumnya serta property atau fasilitas yang mereka miliki. Dalam kategori ini serangan dilakukan di tempat-tempat, seperti pasar, mal,tempat wisata, dan jalan raya serta di pemukiman warga
15. Warga Negara Asing Adalah serangan/tindakan terhadap individu atau sekelompok individu warga negara asing yang mana lokasi serangan berada di tempat-tempat umum dan komersial (seperti jalan raya, kafe, tempat wisata, mal, dan tempat hiburan lainnya)
16. Partai Politik Adalah serangan/tindakan yang ditujukan terhadap kantor dan anggota partai politik (termasuk event partai politik, seperti kampanye)
10 Bentuk Serangan Bentuk serangan teroris, yakni: Adalah tindakan-tindakan yang dilakukan dalam insiden/serangan teroris
1. Lainnya Adalah tindakan-tindakan lain yang tidak ada dalam kategori bentuk serangan
2. Pembunuhan Adalah tindakan yang mana tujuan utamanya adalah untuk membunuh korban/target yang spesifik
3. Pembajakan Adalah tindakan mengambil alih kontrol terhadap pengendalian terhadap suatu kendaraan (misal, pesawat terbang, kapal laut, mobil, dll) untuk kepentingan individu atau sekelompok individu
4. Penculikan Adalah tindakan mengambil/membawa pergi secara paksa seseorang atau lebih dari tempat tertentu yang kemudian ditempatkan di suatu tempat dibawah kekuasaannya atau orang lain. Walaupun tidak melakukan kekerasan secara fisik, penculikan dimasukkan dalam kategori kekerasan karena sifatnya yang merampas kebebasan korban
5. Perampokan Adalah tindakan untuk merampas atau mengambil harta benda seseorang/kelompok/organisasi secara paksa yang mana hasilnya digunakan untuk keperluan terorisme
6. Pengeboman Adalah tindakan/serangan terorisme yang dilakukan oleh individu atau kelompok individu yang mana berasal dari bahan yang tidak stabil secara energetik yang mengalami dekomposisi cepat dan melepaskan gelombang tekanan yang menyebabkan kerusakan fisik pada lingkungan sekitarnya.
7. Penganiayaan dengan senjata Adalah tindakan menyerang secara fisik dengan menggunakan senjata kepada individu maupun sekelompok individu
8. Penganiayaan tanpa senjata Adalah tindakan menyerang secara fisik tanpa menggunakan senjata kepada individu maupun sekelompok individu
9. Serangan terhadap fasilitas/infrastruktur Adalah tindakan atau serangan teroris terhadap properti (bangunan atau fasilitas lainnya) yang mana berdampak kerusakan pada properti tersebut
11 Tipe Serangan Tipe serangan terkait terorisme, yakni Adalah latar belakang yang menjadi landasan pelaku untuk melakukan tindakan/serangan terorisme
1. Tidak jelas Tidak diketahui secara jelas isu/latarbelakang serangan
2. Agama Adalah serangan terorisme yang didasarkan pada isu/persoalan agama
3. Politik Adalah serangan terorisme yang didasarkan pada isu politik (kekuasaan, jabatan, separatisme)
4. Narkoba Adalah serangan terorisme yang didasarkan pada isu narkotika (seperti:persaingan bisnis)
5. Personal Serangan terorisme yang didasarkan pada kepentingan personal/individual
99. lainnya Ada serangan teroris yang didasarkan pada isu selain kode yang tersedia
12 Senjata Kategori Senjata dalam serangan terorisme, yakni: Adalah senjata yang digunakan pelaku dalam insiden/serangan terorisme
0. Tidak ada  
1. Lainnya Adalah senjata-senjata yang tidak masuk dalam kategori-kategori yang telah ditentukan
2. Senjata Api Organik Adalah senjata yang mengeluarkan proyektil yang mana pembuatannya dilakukan secara legal
3. Senjata Api Rakitan Adalah senjata yang mengeluarkan proyektil yang mana pembuatannya dilakukan secara illegal
4. Bom Adalah bahan yang tidak stabil secara energetik yang mengalami dekomposisi cepat dan melepaskan gelombang tekanan yang menyebabkan kerusakan fisik pada lingkungan sekitarnya.
5. Kendaraan Adalah berbagai jenis transportasi yang digunakan pelaku dalam tindakan/serangan terorisme
6. Senjata Biologi Adalah senjata yang diproduksi dari racun yang mengandung zat biologi
7. Senjata Kimia Adalah senjata yang mengandung racun kimiawai berupa cairan, aerosol, dan uap
8. Senjata Tajam Adalah senjata/alat yang telah atau sengaja ditajamkan untuk melukai seseorang
9. Senjata Tumpul Adalah senjata/alat yang tidak ada bagian yang telah/sengaja ditajamkan untuk melukai seseorang
10. Api Adalah senjata yang mampu menghasilkan panas dan cahaya serta mudah menyebakan sesuatu terbakar
Bagian 3. Penanganan terorisme
13 Aktor

Afiliasi aktor penanganan aksi teroris, yaitu:
a) Negara
1. Lainnya (disebutkan dalam database jika tidak termasuk ke dalam pilihan afiliasi pelaku yang sudah ada)
2. Densus 88
3. Polisi
4. TNI
5. BNPT
6. FKPT
7. Kementerian/Lembaga
8. Pemda

b) Non-negara
9. Lainnya (disebutkan dalam database jika tidak termasuk ke dalam pilihan afiliasi pelaku yang sudah ada)
10. LSM
11. Organisasi Keagamaan
12. Universitas/Sekolah

Aktor adalah individu dan/atau sekelompok individu yang terlibat dalam kegiatan penanganan terorisme

Afiliasi aktor adalah identitas umum pelaku berdasarkan afiliasi pada kegiatan penanganan terorisme tersebut.

14 Target Penanganan Kategori yang menjadi target dalam penanganan terorisme, yaitu: Adalah aktor yang ikut dalam/menjadi sasaran/mendapat kegiatan penanganan terorisme
1. Lainnya Aktor selain yang ada dalam daftar
2. Terduga Teroris Individu yang diduga berafiliasi dengan kelompok teroris
3. Mantan Teroris/Kombatan Inidividu yang pernah berafiliasi dengan kelompok teroris
4. Aparat Pemerintah Pemerintah (lembaga atau orang) selain aparat keamanan
5. Ormas/Komunitas Organisasi masyarakat yang bukan merupakan kelompok pemuda atau organisasi mahasiswa
6. Mahasiswa/Siswa Sekolah Individu atau kelompok yang masih terdaftar di perguruan tinggi
7. Masyarakat Umum Individu atau kelompok yang tidak/belum teradikalisasi, tidak bekerja di lembaga pemerintah, tidak merupakan mahasiswa/siswa sekolah, dan bukan merupakan bagian dari organisasi masyarakat/keagamaan
15 Jenis Penanganan 1. Pencegahan Adalah kegiatan yang diadakan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya tindak terorisme atau radikalisasi
2. Penindakan Adalah kegiatan yang diadakan sebagai reaksi dari aksi radikalisasi atau penyebaran terror yang terjadi
3. Pemulihan Adalah kegiatan yang dilakukan untuk merehabilitasi pelaku tindak terorisme
16 Bentuk Penanganan 1. Lainnya Kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk pencegahan terorisme dan radikalisme
2. Seminar/Workshop Seminar/Workshop dengan tema-tema terkait pencegahan terorisme dan radikalisme
3. Training Training dengan tema-tema terkait pencegahan terorisme dan radikalisme
4. Pemberian Dana/Kredit Dana/Kredit yang diberikan kepada individu/kelompok yang rentan terpapar paham terorisme dan radikalisme, untuk membantu mereka membuka peluang usaha untuk memperbaiki perekonomian mereka
5. Penciptaan Lapangan Kerja Membuka peluang-peluang pekerjaan untuk individu/kelompok yang rentan terpapar paham terorisme dan radikalisme, untuk membantu mereka membuka peluang usaha untuk memperbaiki perekonomian mereka
6. Penangkapan Penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap pelaku tindak terorisme dan radikalisme. Bentuk Penanganan khusus untuk Jenis Penanganan Penindakan
7. Operasi Khusus Operasi khusus yang dilakukan oleh aparat keamanan untuk mencegah terjadinya/berkembangnya tindakan terorisme dan radikalismeBentuk Penanganan khusus untuk Jenis Penanganan Penindakan
17 Hasil Penanganan Kategori hasil penanganan terorisme, yaitu: Adalah hasil yang dicapai setelah dilakukan kegiatan penanganan terorisme terhadap target penanganan
1. Lainnya Segala hasil penanganan yang tidak tercantum dalam daftar
2. Tertangkap Aktor berhasil ditangkap dalam keadaan hidup dan sehat
3. Tewas Aktor berhasil ditangkap, tetapi dalam keadaan tewas
4. Luka Aktor berhasil ditangkap, tetapi dalam keadaan luka-luka
5. Tidak Berhasil Aktor tidak berhasil ditangkap
6. Kesadaran Aktor menyadari bahwa tindakan dan pemahamannya salah dan meninggalkannya
7. Peningkatan Keterampilan Aktor mendapatkan keterampilan lebih dalam menghasilkan sumber-sumber penghasilan ekonomi
8. Kepemilikan Modal Aktor memiliki modal untuk membuka usaha, baik itu atas usahanya sendiri maupun karena pemberian dari pihak lain
Bagian 4. Ringkasan dan sumber informasi
18 Ringkasan Peristiwa Serangan Teroris Adalah deskripsi singkat mengenai serangan/tindakan yang terjadi. Deskripsi tersebut mengandung informasi mengenai kronologi insiden, lokasi spesifik, isu dan bentuk serangan, dan dampak yang ditimbulkannya
Penanganan terorisme dan ekstremisme Adalah deskripsi singkat mengenai kegiatan penanganan terorisme yang dilakukan. Deskripsi tersebut mengandung informasi mengenai detail kegiatan, lokasi spesifik, actor, target, bentuk kegiatan, dan hasil penanganan
19 Sumber Media   Link berita yang menjadi sumber informasi dari berbagai media on-line yang memberitakan peristiwa serangan teroris atau penanganan terorisme dan ekstremisme